03 Agustus 2008

Mi’raj-ku, Mi’raj Anda, Mi’raj Kita

Masih begitu segar dalam ingatanku saat masa-masa awal diriku merambahkan kaki di Yogyakarta. Saat itu, tepat di pagi hari pukul enam pagi, aku telah melangkahkan kaki menuju kediaman Pak Kandar, seorang agen koran di Jln Bantul Yogyakarta. Seperti biasa pagi itu aku jualan koran di perempatan Jok-teng. Seperti biasa pula, ku habiskan waktuku di sudut perempatan itu sampai kira-kira pukul 09.30 WIB. Sampai habis waktuku dan ku hitung perolehan uangku, ternyata....ah, aku hanya mendapat uang seribu lima ratus rupiah. Padahal saat kuhitung sebelum setoran uang itu sejumlah tiga ribu lima ratus. Tapi ko’ jadi seribu lima ratus?
Praktis hati kecilku bertanya-tanya, "Kemana uangku? Adakah yang mencurinya?" Tapi kurasa tak ada yang mencuri karena aku hanya jualan sendirian. Berarti uangku hilang. Mungkin terjatuh di jalan atau aku yang salah menghitung uang. Tapi sudahlah...semua telah terjadi dan aku harus menerima kenyataan bahwa hari itu aku hanya punya uang seribu lima ratus rupiah. Uang itu hanya cukup untuk sarapan sekali, itu pun di warung termurah. Untuk makan nanti sore, aku tak tahu dapat dari mana. Paling hutang jika teman-temanku ada yang punya uang. Jikalau tak ada, berarti sore itu aku harus rela bertemankan lapar.
Ah, tapi aku tak seputus asa itu. Gus Zainal, guru ngajiku sekaligus Bapakku di Jogja, mengajariku untuk selalu optimis. Beliau pernah berkata, "Allah tak akan membiarkan hambanya yang mau berusaha menjadi sengsara. Dimana pun tempat asalkan kita mau bergerak, rizki pasti akan bisa dipetik. Seekor laba-laba yang diam dalam sarangnya itu saja mendapat jatah rizki. Apalagi kita yang mau berusaha". Petuah itu begitu merasuk ke seluruh pori-pori tubuhku. Denyut hatiku yang sedari tadi diam, tiba-tiba secara perlahan bicara, "Ya Allah, aku yakin sore ini Engkau pasti memberiku rizki".
Sore pun tiba. Datanglah Sigit, teman akrabku di MAN 2 menjemputku. Dia mengajakku jalan-jalan. Tawaran itu aku turuti tapi setelah ngaji. Dan benarlah, setelah selesai ngaji aku jalan-jalan bersama Sigit. Lama mengitari alun-alun kidul Jogja, aku diampirkan ke sebuah warung makan. Ternyata warung itu menyediakan menu istimewa, ayam goreng. Aku pun dipesankan Sigit ayam itu, lalu kami makan. Selesai makan dan tenggorokanku serasa basah, aku sedikit tertegun. Hati kecilku bertanya-tanya, "Aku ko’ bisa makan ayam? Padahal hari itu aku hanya punya uang seribu lima ratus rupiah. Apa ini yang dinamakan kemurahan Allah? Berarti memang benar bahwa Allah tak akan membiarkan hamba-Nya sengsara".
Sejak kejadian itu aku jadi semakin mengerti bahwa Allah memberi rizki dari jalan yang terkadang aku tak tahu. Dan aku semakin menyadari bahwa hidup yang kujalani bukanlah hidup yang sulit. Meski harus bersusah payah mencari makan dan terkadang lapar memanggil, itu bukanlah suatu kepedihan. Hidup yang kujalani bukanlah gugusan-gugusan takdir yang mesti kita sesali. Namun hanyalah secuil tantangan yang harus kita hadapi. Dan begitulah Allah me-mi’raj-kan diriku saat ini. Dia membangunkanku dari lamunan panjang dan membawaku menghadapi realita kehidupan.
Kalau dahulu hidupku enak dalam buaian orang tua, itu bukanlah hidupku. Itu adalah hidup orang tuaku. Saat inilah aku merasakan telah hidup karena sedikit demi sedikit aku mampu menanggung hidupku sendiri. Termasuk untuk kuliah. Dan ku sadari dengan sepenuh hati bahwa Tuhanku saat ini sedang menghiburku sebagaimana Dia menghibur Kanjeng Nabi setelah 'am al-husni. Tuhan memberiku hiburan dengan membawaku pada kenyataan hidup. Hidup yang harus dijalani dan hidup yang harus dilewati.
Barangkali tak hanya diriku yang dihibur-Nya. Anda juga termasuk di dalamnya. Hanya saja mungkin anda belum sadar kalau telah di-mi’raj-kan oleh-Nya. Atau memang anda yang belum mau me-mi’raj-kan diri. Anda masih terpana dengan hidup yang semestinya bukan milik anda. Harta, uang, mobil, atau apapun yang anda punyai bisa jadi masih milik orang tua, atau bahkan milik para orang-orang miskin yang anda rampas haknya. Nah, jika anda belum juga beranjak me-mi’raj-kan hidup, Tuhan pun enggan me-mi’raj-kan anda. Jadi, PR besar bagi anda dan bagi kita semua saat ini adalah sesegera mungkin me-mi’raj-kan diri agar Tuhan senantiasa menyertai.
Entah dengan cara apa anda me-mi’raj-kan diri. Mungkin dengan menginfakkan kelebihan harta, ilmu, tenaga, pikiran, atau dengan jalan apapun itu asalkan di jalan Allah, semoga itu akan mampu menjadi kendaraan kita menuju Allah. Dan semoga Allah segera memberi pencerahan hidup bagi kita semua sebagaimana yang Ia berikan kepada Kanjeng Nabi setelah di isra’dan mi’raj-kan.

Tidak ada komentar: